>>> Recent Coment

>>> Recent Post

[Pasang]

Detik-Detik Wafatnya Rasulullah SAW


Dari Anas r.a., ia berkata, “Ketika Rasulullah Saw. hampir wafat, Fatimah r.ah., berkata, “Aduhai susahnya”. Kemudian Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Tidak ada kesusahaan bagi ayahmu setelah hari ini, sesungguhnya telah datang kepada ayahmu sesuatu yang tidak akan luput dari seorangpun, yaitu kematian.”
Al-Imam al Ghazali berkata dalam Al-Ihya: Ibnu Mas’ud r.a., berkata, “Kami menemui Rasulullah Saw. di rumah ibu kami, Aisyah r.a., ketika perpisahan sudah mendekat, beliau memandang kami, sehingga kedua matanya berlinang air mata.” Lalu beliau berkata, “Selamat datang untuk kalian, semoga Allah memberikan kehidupan bagi kalian, Allah menempatkan kalian, Allah menolong kalian, dan aku mewasiatkan ketakwaan kepada Allah, dan aku mewasiatkan Allah kepada kalian, sesungguhnya aku hanyalah pemberi peringatan yang jelas bagi kalian, supaya kalian jangan menyombongkan diri di negara-Nya dan hamba-Nya, ajal sudah dekat, dan kembali hanya kepada Allah, dan kepada sidratil muntaha, dan ke surga tempat tinggal, dan kepada gelas yang memenuhi janjinya, kemudian bacakanlah dariku salam untuk kalian dan orang-orang yang masuk agama setelahku.”
Aisyah r.a., berkata, “Ketika hari wafatnya Rasulullah Saw., orang-orang melihat bahwa keadaan beliau menjadi ringan, karena itulah kaum lelaki berhamburan menuju ke rumah dan keperluan masing-masing dengan perasaan gembira, dan membiarkan Rasulullah bersama kaum wanita. Ketika kami dalam keadaan demikian –saat dalam keadaan penuh harapan dan gembira- Rasulullah Saw. bersabda, ‘Keluarlah dari tempatku, karena ada malaikat yang meminta izin kepadaku.’”
Semua yang ada di rumah keluar selain diriku, sementara kepala Rasulullah Saw. berada di pangkuanku. Kemudian beliau berdiri, dan aku bergeser ke pojok rumah, kemudian beliau berbisik-bisik dengan malaikat itu lama sekali, lalu beliau mengembalikan kepalanya ke pangkuanku, sambil berkata kepada para wanita, “Masuklah kalian.” Aisyah berkata, “Ini rasanya bukan malaikat Jibril a.s.? Nabi menjawab, “Benar Aisyah, dia adalah malaikat kematian, ia datang kepadaku dan berkata, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengutusku, dan memerintahkan kepadaku untuk tidak masuk kecuali dengan izin, kalau engkau tidak mengizinkanku, maka aku akan pulang, dan kalau engkau mengizinkanku, maka aku akan masuk, dan Allah memerintahkanku untuk tidak mencabut nyawamu sehingga engkau memerintahkannya kepadaku. Kemudian apa perintahmu?’Aku menjawab, “Tahan dulu, sampai Jibril datang kepadaku, sebab ini waktu untuk Jibril.”
Aisyah r.ah., berkata, “Kemudian kami dihadapkan kepada suatu urusan yang tidak ada jawaban dan pendapatanya dalam diri kami. Kami diam merasa takut, seakan-akan kami dibentak, kami tidak bercakap-cakap dengannya sedikit pun, dan tidak ada seorang pun penghuni rumah yang berbicara, sebagai penghormatan terhadap suasana ini dan rasa segan yang memenuhi diri kami.”
Aisyah berkata, “Kemudian Jibril datang pada waktunya, lalu mengucapkan salam, dan aku merasakannya, kemudian penghuni rumah keluar semua, lalu Jibril masuk dan berkata, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengucapkan untukmu salam, bagaimana aku mendapatimu? Sedangkan Dia lebih mengetahui dengan yang engkau temukan dari-Nya. Namun Dia ingin menambah kemuliaan dan keagungan untukmu, dan hendak menyempurnakan kemuliaan dan keagunganmu terhadap manusia, dan menjadi sunnah bagi umatmu.” Lalu Nabi berkata, “Aku ingin mendapatkan diriku dalam keadaan sakit.”
Jibril berkata, “Berilah kabar gembira, sesungguhnya Allah Ta’ala ingin menyampaikanmu dengan apa-apa yang telah dipersiapkan untukmu.” Wahai jibril, Malaikat maut telah meminta izin kepadaku”, lalu Nabi menceritakan beritanya.”
Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. berkata kepada Jibril menjelang wafatnya, “Siapakah orang yang menggantikanku untuk ummatku?” Kemudian Allah mewahyukan kepada Jibril, “Berilah kabar gembira kepada kekasih-Ku, bahwa aku tidak akan menjadikannya hina di tengah umatnya, dan berikanlah kabar gembira kepadanya, bahwasanya dia adalah orang yang paling cepat keluar dari bumi jika dibangkitkan, dan sesungguhnya surga itu diharamkan kepada semua umat sehingga dimasuki oleh umatnya.” Setelah itu Rasulullah Saw. bersabda, “Sekarang mataku menjadi tenang.”
Kemudian Jibril berkata, “Wahai Muhammad, apakah yang menginginkanmu belum memberitahumu? Tidak, demi Allah, malaikat maut tidak pernah meminta izin kepada siapa pun, dan tidak akan ada yang meminta izin kepadanya selama-lamanya. Ketahuilah, sesungguhnya Tuhanmu hendak menyempurnakan kemuliaanmu, dan Dia sangat merindukanmu.”
Rasulullah Saw. berkata, “Kalau begitu jangan tinggalkan sampai datang saatnya.”
Lalu Nabi memberikan izin kepada para wanita untuk masuk, sambil berkata pelan kepada putrinya tercinta, “Wahai Fatimah.” Kemudian fatimah memeluk Nabi, dan beliau berbisik kepadanya, lalu Fatimah mengangkat kepalanya, sementara matanya berlinangan air mata serta tidak mampu berkata-kata. Kemudian Nabi bersabda, “Dekatkan kepalamu kepadaku”, lalu fatimah memeluknya dan dibisikinya, kemudian Fatimah mengangkat kepalanya sambil tertawa, namun tidak mampu berbicara, sementara itu kami yang melihat merasa heran. Setelah itu kami bertanya kepada Fatimah, dan ia pun menjawab, “Beliau memberitahuku.” Dan Rasulullah bersabda, “Sekarang aku akan mati”, lalu aku menangis. Kemudian Rasulullah Saw. berkata, “Aku berdoa kepada Allah, agar mempertemukanmu denganku sebagai keluargaku yang pertama, dan menjadikanmu bersamaku, maka aku pun tertawa, kemudian Fatimah mendekatkan kedua anaknya kepada Nabi, dan Nabi pun mencium keduanya.”
Aisyah berkata, “Kemudian datanglah malaikat maut minta izin, lalu Nabi pun memberi izin kepadanya. Lalu Malaikat berkata, ‘Apa yang engkau perintahkan kepada kami?’ Nabi bersabda, ‘Sekarang pertemukan aku dengan Tuhanku.’ Malaikat berkata, ‘Tentu saja, sejak harimu ini, sungguh Tuhan sangat merindukanmu, dan tidak merasa bimbang terhadap seseorang seperti kebimbangan-Nya kepadamu, dan tidak pernah melarangku untuk masuk kepada seseorang kecuali dengan izin, selain kepada mu, namun sekarang waktumu ada dihadapanmu, lalu malaikat maut keluar.”
Aisyah berkata, “Jibril datang sambil berkata, “Semoga keselamatan tetap kepadamu, wahai Rasulullah, ini adalah hari terakhir aku turun ke dunia, untuk selama-lamanya. Wahyu telah digulung, dan dunia pun digulung, dan tidak ada lagi di dunia keperluan selainmu, dan aku tidak mempunyai lagi keperluan selain keberadaanmu, kemudian melaksanakan tugasku.”
“Tidak, demi Zat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran. Tidak seorang pun di rumah yang mampu berbicara kepadanya satu patah kata pun, dan tidak ada seorang pun yang di utus untuk menemui salah seorang lelaki, karena agungnya perkataan yang kami dengar, dan kecintaan serta kerinduan kami.”
Aisyah berkata, “Lalu aku berdiri mendekati Rasulullah Saw. sehingga aku meletakkan kepala beliau di atas dadaku, dan aku memegang dada beliau, sementara beliau pingsan, sedangkan keningnya mengeluarkan tetesan air yang belum pernah aku lihat pada seorang pun. Lalu aku menghapus keringat itu, dan aku pun tidak mendapatkan wangi yang lebih harum darinya. Kemudian ketika beliau sadar aku berkata kepadanya, ‘Demi bapakku, ibuku, diriku dan keluargaku, apa yang menyebabkan keningmu berkeringat?’ Rasulullah Saw. bersabda, ‘Wahai Aisyah, sesungguhnya nafas (nyawa) orang mukmin itu keluar dengan keringat, sementara nafas orang kafir keluar di sudut mulut sperti keledai.’”
“Saat itu kami sadar dan mengutus seseorang kepada keluarga kami. Dan lelaki yang pertama datang kepada kami –namun tidak menyaksikan Nabi wafat- adalah saudaraku, yang di utus oleh ayahku. Rasulullah Saw. wafat sebelum kedatangan seorang pun, dan memang Allah menahan mereka semua menemui Nabi, sebab Allah telah memerintahkan kepada Jibril dan Mikail, serta Allah menjadikan Nabi pingssan, dan berkata, “Allah, Allah.” Seakan-akan pilihan dikembalikan kepada Nabi. Jika Nabi mampu berbicara, maka dia berkata, “Shalat, Shalat.” Sesungguhnya kalian akan tetap dalam keadaan saling berpegangan apabila kalian Shalat semuanya. “Shalat, shalat.” Rasulullah terus-menerus berwasiat dengan shalat sampai meninggal. Beliau mengatakan, “Shalat-shalat.”
Aisyah menarik tubuh beliau ke pangkuannya. Tentang hal ini dia pernah berkata, “Sesungguhnya di antara nikmat Allah yang dilimpahkan kepadaku, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meninggal dunia di rumahku, pada hari giliranku, berada dalam rengkuhan dadaku, bahwa Allah menyatukan antara ludahku dan ludah beliau saat wafat.”
Abdurrahman bin Abu Bakar masuk sambil memegang siwak. Saat itu aku merengkuh tubuh beliau. Kulihat beliau melirik ke siwak di tangan Abdurrahman. Karena aku tahu beliau amat suka kepada siwak, maka aku bertanya, “Apakah aku boleh mengambil siwak itu untuk engkau?”
Beliau mengiyakan dengan isyarat kepala. Maka aku menyerahkannya kepada beliau dan beliau menggosokkannya ke mulut beliau. Namun siwak itu terasa keras bagi beliau. Aku bertanya,“Bolehkah aku lembutkan untukmu?”
Di dekat tangan beliau saat itu ada bejana berisi air. Beliau mencelupkan kedua tangan ke dalam air lalu mengusapkannya ke wajah, sambil bersabda, “Tiada Illah selain Allah. Sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya.” (HR. Bukhari).
Seusai bersiwak beliau mengangkat tangan atau jari-jari, mengarahkan pandangan ke arah langit-langit rumah dan kedua bibir beliau bergerak-gerak. Aisyah masih sempat mendengar sabda beliau pada saat-saat itu, “Bersama orang-orang yang engkau beri nikmat atas mereka dari para nabi, shadiqqin, syuhada, dan shalihin. Ya Allah, ampunilah dosaku dan rahmatilah aku. Pertemukanlah aku dengan Kekasih Yang Mahatinggi ya Allah, Kekasih yang Mahatinggi.”
Kalimat yang terakhir ini diulang sampai tiga kali yang disusul dengan tangan beliau yang melemah.Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un. Beliau telah berpulang Kepada Kekasih Yang Mahatinggi. (HR. Bukhari).
Aisyah r.a., berkata, “Rasulullah Saw. meninggal antara waktu dhuha yang mulai meninggi dan pertengahan siang, pada hari senin.”
Hal ini terjadi selagi waktu dhuha sudah terasa panas, pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal 11 H, dalam usia 63 tahun lebih empat hari.
Referensi:
Al-Muafiri, Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam. (2000). As-Sirah an-Nabawiyah li Ibni Hisyam(edisi terjemah Indonesia; Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam jilid 2). Alih Bahasa Fadli Bahri. Jakarta: Darul Falah.
Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyurrahman. (2007). Sirah Nabawiyah, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar.
An Nabhani, Syaikh Yusuf bin Ismail. (2006). Wasailul Wushul Ilaa Syamailirrusul (edisi terjemah Indonesia; Sisi Kehidupan Pribadi Rasulullah Saw). Alih bahasa Ali Nurdin. Bandung : Hasyimi.
Qol’ahji, Muh. Rawwas. (2006). Qira’ah Siyasah li Sirah Nabawiyah (edisi terjemah Indonesia; Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw.) Bogor: Al-Azhar Press.



Artikel Terkait:

Comments
0 Comments

{ 0 komentar... Skip ke Kotak Komentar }

Tambahkan Komentar Anda

 

widget blog qu

Flag Counter
Klik Like !
×
pemula 94 © 2012 | Template By Jasriman Sukri